Selasa, 15 Januari 2013

PEREMPUAN 700 TAHUN


Caping Gunung Pawarta - Benarkah perempuan ini berumur 700 tahun? Penemuan mumia terbaru di China, yang secara kebetulan ditemukan pekerja ketika sedang memperbaiki jalan di China bagian Timur .

    Yang luar biasa adalah keadaan tubuh si mumia yang masih sangat baik dan utuh. Dikatakan ia milik perempuan pejabat tinggi semasa Dinasi Ming (1368-1644). Ia ditemui di kota Taizhou, Daerah Jiangsu.

    Arkeologi Cina terkejut bagaimana eloknya keadaan kulit, rambut, alis, dan wajah si perempuan. Seakan-akan perempuan ini baru meninggal beberapa tahun lalu. Ia mengenakan pakaian dari sutera yang masih terawat.

    Mumia ditemukan di dalam keranda kayu di kedalaman dua meter dari permukaan tanah. Apa yang ia pakai dan bagaimana kondisi dirinya memperlihatkan bagaimana kehidupan masa lalu Cina. Dari hujung rambut hingga hujung kaki, boleh disebutkan mumia ini sangat lengkap dan baik.

    Adakah ia seorang Islam? Kerana Dinasti Ming dikatakan sebuah kerajaan Islam? Adalah dipercayai bahawa Chu Yuan Chang, pengasas kerajaan Ming itu ialah seorang Islam. Baginda menggunakan gelaran Maharaja Hung Wu, seorang Islam dari keturunan Semu (semitik) yang telah datang ke China dalam zaman Yuan. 


    Permaisurinya yaitu Ratu Ma Hou jelas beragama Islam kerana baginda berasal daripada keluarga Ma di An Hui. Setelah menawan Nanking, Chu Yuan Chang telah mendirikan sebuah masjid jami'. Masjid ini dinamakan Masjid Chin Juieh yang bermaksud 'Pencerahan Murni'. Bahkan baginda sendiri telah menulis sebuah sajak untuk diabadikan pada dinding masjid yang dibinanya itu.

    Ibrahim Tien Ying Ma, bekas mufti Peking (Beijing) dan salah seorang pegawai Republik China sebelum China jatuh ke tangan Komunis pada tahun 1949, telah menyatakan bahawa Dinasti Ming itu memang sebuah kerajaan Islam. Beliau menjelaskan bahawa 'Ming' bermaksud 'gilang-gemilang atau terang-benderang'.

    Perkara ini mengingatkan kita kepada tindakan Rasulullah Saw ketika mula-mula sampai ke Yathrib pada tahun 622M. Baginda telah menukarkan nama kota itu kepada Madinah al-Munawarah atau 'Kota yang gilang-gemilang dan bercahaya'.

    Dinasti inilah masyhur dengan Laksamana muslim bernama Cheng Ho dan mengadakan perhubungan dengan kerajaan Melaka. Jadi adakah Mumia itu seorang perempuan muslim? Begitukah rupa dan pakaian mereka 700 tahun lampau. Sama usia ketika kedatangan Islam ke Terengganu yang tercatat di Batu Bersurat yang dikatakan datang dari Yunnan, China.

 Wallahua’lam.

Sumber : http://akakdisebalikpintu.blogspot.com/

Notes:
Mumia Islam atau bukan tidaklah terlalu penting. Ada yang yang lebih penting untuk direnungkan adalah: "Apakah kita ingin mayat kita nanti tetap utuh seperti mumia di atas? Bahkan sampai berakhirnya dunia ini? Ataukah hancur lebur menjadi tanah, dan ketika tiba saatnya nanti akan tumbuh lagi menjadi lebih baik?"

Jika ada yang bertanya pada hamba terkait hal ini, akan hamba katakan bahwa: "Ingin hamba pada saatnya nanti menjadi bukan hamba. Melainkan kembali kepada yang membuat hamba, membuat mata hamba, membuat telinga hamba, dan yang membuat segala apa yang ada pada diri hamba".

Jumat, 11 Januari 2013

Bunuh Diri karena hasil karya-nya sendiri

Caping Gunung Pawarta - Penghargaan tertinggi bidang fotografi jurnalistik "Pulitzer Prize" pada tahun 1994, jatuh pada foto seorang gadis yang menangis kelaparan dan berusaha merangkak kelelahan menuju camp pengungsian PBB yang berjarak 1 kilometer dari tempatnya. Ia tanpa pakaian, kurus dengan tulang menonjol dimana-mana, sementara di belakangnya ada burung pemakan bangkai yang sudah mencium 'bau kematian' gadis kecil
tersebut.

Foto tersebut diambil di Sudan, Afrika Utara pada Maret 1993, oleh seorang wartawan bernama Kevin Carter, yang mendengar suara tangis anak tersebut. Ia sempat menunggu selama 20 menit supaya burung pemakan bangkai itu pergi, tetapi akhirnya mengambil foto gadis itu karena burung tersebut tidak juga meninggalkan gadis tersebut. Kemudian ia meninggalkannya.

Begitu foto tersebut dipublikasikan oleh harian "New York Times", redaksi menerima begitu banyak telepon menanyakan kabar gadis itu:

"Apakah dia tewas?"
"Apakah dia bisa sampai ke camp/food-center PBB?"
"Apakah dia dimakan burung pemakan bangkai?"
"Bagaimana saya bisa menolong gadis tersebut?", dan...
"Mengapa Kevin tidak segera menolong anak itu?!"

Beberapa bulan kemudian setelah menerima penghargaan bergengsi tersebut, Kevin mati bunuh diri karena dihantui pemandangan tersebut. Mungkin dia menyesal, tidak menolong anak kelaparan tersebut.

Renungan :
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Mari, selagi masih ada kesempatan berbuat baik, kita berbuat baik dengan tidak jemu-jemu. Jangan sampai kita menyesali diri karena kesempatan berbuat baik itu sudah tertutup.
by : fatkul munif

Rp. 10.000 Membuat Kita Mengerti Cara Bersyukur

Caping Gunung Pawarta - Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. QS. Al Baqarah : 243

Menjelang Ramadhan tahun ini ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan.

Usai mereka membayar semua barang belanjaan. Tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan. Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, “Beri kami sedekah, Bu!”

Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah.

Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala ia tahu jumlahnya dan ternyata itu tidak mencukup kebutuhannya, ia kemudian menguncupkan jari-jarinya dan ia arahkan kearah mulutnya, kemudian ia memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke arah mulutnya. Seolah ia berkata dengan bahasa isyarat, “Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan.”

Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, “Tidak… tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!”

Ironisnya meski ia tidak menambahkan sedekahnya malah istri dan putrinya Budiman menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan. Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang adalah tanggal dimana ia menerima gajian dari perusahaannya, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekeningnya.

Ia sudah berada di depan ATM. Ia masukkan kartu ke dalam mesin tersebut. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncullah beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya. Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.

Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Kemudian uang itu ia lipat menjadi kecil dan ia berniat untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.

Budiman memberikan uang itu. Lalu saat sang wanita melihat nilai uang yang ia terima betapa girangnya dia. Ia berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan:

“Alhamdulillah… Alhamdulillah… Alhamdulillah… Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah. Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga…!”

Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, “Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga….!”

Deggg…!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang. Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.

Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman. Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. “Ada apa Pak?” Istrinya bertanya.

Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan:

“Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!”

Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman menyatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis, namun Budiman melanjutkan kalimatnya:

“Bu…, aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu. Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!

Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah.

Bu…, aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku. Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah.”

Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba.

Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang suka lalai atas segala nikmat-Mu! 
 By  *Redi Setiyo Prabowo*

Kamis, 10 Januari 2013

Tukang Becak Yang Menyumbang Ratusan Juta Hingga Meninggal

Caping Gunung Pawarta - Tak perlu menggembar-gemborkan sudah berapa banyak kita menyumbang orang karena mungkin belum sepadan dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bai Fang Li. Kebanyakan dari kita menyumbang kalau sudah kelebihan uang. Jika hidup pas-pasan keinginan menyumbang hampir tak ada.

Bai Fang Li berbeda. Ia menjalani hidup sebagai tukang becak. Hidupnya sederhana karena memang hanya tukang becak. Namun semangatnya tinggi. Pergi pagi pulang malam mengayuh becak mencari penumpang yang bersedia menggunakan jasanya. Ia tinggal di gubuk sederhana di Tianjin, China.

Ia hampir tak pernah beli makanan karena makanan yang ia makan lebih banyak didapatkan dengan cara memulung. Begitupun pakaiannya. Apakah hasil membecaknya tak cukup untuk membeli makanan dan pakaian?

Pendapatannya cukup memadai dan sebenarnya bisa membuatnya hidup lebih layak. Namun ia lebih memilih menggunakan uang hasil jerih payahnya untuk menyumbang yayasan yatim piatu yang mengasuh 300-an anak tak mampu.

"Kejadian yang Mulai Merubah Pandangan Hidupnya"

Bai Fang Li mulai tersentuh untuk menyumbang yayasan itu ketika usianya menginjak 74 tahun. Saat itu ia tak sengaja melihat seorang anak usia 6 tahunan yang sedang menawarkan jasa untuk membantu ibu-ibu mengangkat belanjaannya di pasar. Usai mengangkat barang belanjaan, ia mendapat upah dari para ibu yang tertolong jasanya.

Namun yang membuat Bai Fang Li heran, si anak memungut makanan di tempat sampah untuk makannya. Padahal ia bisa membeli makanan layak untuk mengisi perutnya. Ketika ditanya, ternyata si anak tak mau mengganggu uang hasil jerih payahnya itu untuk membeli makan.

Ia gunakan uang itu untuk makan kedua adiknya yang berusia 3 dan 4 tahun di gubuk di mana mereka tinggal. Mereka hidup bertiga sebagai pemulung dan orangtuanya entah di mana.

Bai Fang Li yang berkesempatan mengantar anak itu ke tempat tinggalnya tersentuh. Setelah itu ia membawa ketiga anak itu ke yayasan yatim piatu di mana di sana ada ratusan anak yang diasuh.

Sejak itu Bai Fang Li mengikuti cara si anak, tak menggunakan uang hasil mengayuh becaknya untuk kehidupan sehari-hari melainkan disumbangkan untuk yayasan yatim piatu tersebut.

Pada tahun 2001 usianya mencapai 91 tahun. Ia datang ke yayasan itu dengan ringkih. Ia bilang pada pengurus yayasan kalau ia sudah tak sanggup lagi mengayuh becak karena kesehatannya memburuk. Saat itu ia membawa sumbangan terakhir sebanyak 500 yuan atau setara dengan Rp 675.000.

Dengan uang sumbangan terakhir itu, total ia sudah menyumbang 350.000 yuan atau setara dengan Rp 472,5 juta. Anaknya, Bai Jin Feng, baru tahu kalau selama ini ayahnya menyumbang ke yayasan tersebut. Tahun 2005, Bai Fang Li meninggal setelah terserang sakit kanker paru-paru

Renungan :
Melihat semangatnya untuk menyumbang, Bai Fang Li memang orang yang luar biasa. Ia hidup tanpa pamrih dengan menolong anak-anak yang tak beruntung. Meski hidup dari mengayuh becak (jika diukur jarak mengayuh becaknya sama dengan 18 kali keliling bumi), ia punya kepedulian yang sangat tinggi kepada nasib orang lain yang lebih kurang beruntung dari dirinya.

Bagi yang sangat tersentuh dengan sikap Bai Fang Li
ayo kita LIKE dan SHARE cerita ini ke teman2 kita... ( muif fakul )

Rabu, 09 Januari 2013

MK Bubarkan RSBI, Inilah Testimoni Siswa RSBI di Surabaya

Caping Gunung Pawarta - Biaya sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di Kota Surabaya memang gratis. Bebas biaya itu juga berlaku saat pendaftaran yang melalui tes.

Beberapa pelajar RSBI mengakui. Misalnya, Arif. Siswa SMAN 2 ini masuk melalui tahapan tes seleksi. "Gratis," ujar Arif saat bincang-bincang di depan sekolahnya, Rabu (9/1/2012).

Selama sekolah di RSBI, biaya seperti SPP atau biaya les juga gratis. Hanya, para siswa mengeluarkan biaya ketika pembelian buku pelajaran dan LKS.

"LKSnya beli. Kalau buku pelajaran, boleh beli di sekolah boleh tidak. Kalau seragam juga boleh beli di sekolah boleh beli di luar," kata salah satu siswi SMAN 1.

Sementara itu, saat proses belajar mengajar, bahasa pengantar yang disampaikan para guru kadang menggunakan bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Pasalnya, buku pelajarannya menggunakan teks bilingual seperti mata pelajaran Bahasa Inggris dan MIPA.

"Ya nggak mesti. Kadang penyampaiannya menggunakan Bahasa Indonesia, kadang Bahasa Inggris, karena bukunya bilingual, tergantung gurunya. Kalau ngobrol sama temen-temen di sekolah ya nggak harus pakai bahasa Inggris, kadang Bahasa Indonesia kadang pakai bahasa Jawa," tutur siswi berjilbab kelas 10 SMAN 1.

Para siswa tersebut juga mendapatkan pelajaran kandungan lokal, seperti pelajaran Bahasa Daerah. "Ada mata pelajaran bahasa daerah," terangnya.

Pengakuan lain juga mengalir dari siswa RSBI SMPN 1 Surabaya juga mengakui tidak dipungut biaya sepersen pun dan biaya yang dikeluarkan juga sama seperti siswa RSBI SMA yakni, biaya pembelian buku dan seragam.

"SPP nggak bayar. Cuma bayar buku pelajaran, seragam. Itu boleh beli di luar atau di sekolah," kata siswi kelas 8 SMPN 1 Surabaya.

Walikota Tri Rismaharini ngotot akan mempertahankan RSBI karena RSBI di Surabaya tidak sama dengan di Jakarta. Sikap ini jelas melawan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK).

MK telah memutuskan untuk penghapusan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI/SBI) karena bertentangan dengan UUD 1945 dan bentuk liberalisasi pendidikan.


(roi/gik)

Renungan

Potret

Entri Acak

Last Updated

Iklan5